Tragedi Taksi

Tragedi Taksi
Tragedi Taksi
Sekarang di berita lagi rame ya taksi tawuran. Gw sempet punya pengalaman buruk juga sih sama taksi. Karena tuntutan pekerjaan, pernah gw jalan kaki dari Plaza Mandiri ke kosan gw, waktu itu emang lagi macet banget. Jadi gw memutuskan untuk nggak naik taksi walaupun itu bayarnya gratisan dari kantor, gw nggak mau naik taksi karena menurut gw jalan kaki itu sehat. Baiklah, nggak sepenuhnya bener, alasan utama gw adalah: males kena macet. Anyway, gw keluar dari pintu belakang Plaza Mandiri dengan pertimbangan kalau lewat pintu belakang lebih cepet, iya nggak sih!? Dengan sepenuh hati gw jalan kaki lewat SCBD sampe Senopati dengan pikiran yang kelewat positif lengkap dengan bakat nyasar yang kelewatan, hal ini berujung pada peristiwa yang disebut manusia sebagai: tersesat. Merasa kehilangan arah, akhirnya gw memutuskan naik taksi dan sampe dikosan dengan selamat. Oke, ini lebih cocok disebut pengalaman nyasar dari pada pengalaman buruk naik taksi.

Pengalaman buruk yang sebenarnya adalah ketika gw harus berangkat ke  Elev**ia.
Mas-mas sopir: "Siang Pak, mau kemana pak?"
Gw: "Siang pak, ke Planet 88"
Mas-mas sopir: "Planet 88 dimana ya pak?"
Gw: "Itu yang di kuningan itu pak"
Mas-mas sopir: "Oke pak, saya ke arah kuningan ya, nanti dipandu ajah"

Oke, gw paling nggak bisa mandu-memandu jalan, jadilah gw memutuskan untuk telepon Sunny.

Gw: "Halo mba, ke kantor Elev**ia itu yang di Planet 88 jalannya kemana ya?"
Sunny: "Plaza 89 ya, Arif, mana ada gedung namanya Planet 88 di kuningan"
Gw: "Eh, Plaza 89 ya, oke oke.."

Bip! Telepon ditutup, gw melakukan koreksi terhadap tujuan perjalanan gw yang sebenarnya. Perjalanan menuju Plaza 89, bukan lagi Planet 88 yang nista itu.

Gw: "Pak, karena taksi nggak mungkin menjelajahi galaksi bimasakti, tujuan kita ke Planet 88 dibatalkan saat ini juga. Putar kendali ke Plaza 89, Kuningan"
Mas-mas sopir: "Siap, Kapten!"

Sekarang gw jadi Kapten. Kapten blingsatan.

Yah, walaupun itu termasuk pengalaman buruk, tapi belum memenuhi syarat untuk disebut sebagai tragedi.

Tragedi taksi terjadi ketika gw mau ke kantor salah satu klien untuk melaksanakan misi mulia UAT (User Acceptance Test). Berangkat dari kantor, gw mulai meraba keberadaan taksi yang kelak akan kita sebut sebagai taksi laknat. Ketemu! Serta merta gw merangsek kedalam jok belakang taksi dan disambut dengan biadab oleh mas-mas sopir kumisan.

Mas-mas sopir kumisan: "Pagi pak, mau berangkat kemana?"
Gw: "Pagi pak, ke kantor Pru***tial pak"
Mas-mas sopir kumisan: "Kantor Pru***tial yang mana ya pak?"
Gw: "Itu pak, yang deket Indomie Tower"
Mas-mas sopir kumisan: "Indofood tower kali maksudnya ya pak?"
Gw: "Eh.. Itu sekarang ganti jadi Indofood Tower ya pak? Dulu tahun 90an namanya Indomie Tower pak.."

Ya ampun, ini mas-mas sopir bukannya iya ajah kek. Kan malu gw jadinya, ketauan banget anak kosannya. ~,~

Anyway, bakat gw untuk nyasar benar-benar pada level yang sangat mengkhawatirkan. Gw nggak tau kenapa, selalu dan selalu kesulitan menghapal jalan atau nama tempat. Kadang gw frustasi dan sempat berpikir: Gw buta arah apa gimana sih, apa gw perlu ke dokter untuk memeriksakan kemampuan navigasi gw yang buruk? Ah entahlah, toh gw bukan pilot atau pelaut, bukan sopir atau tukang ojek. Kalau perlu nyasar, ya nyasar ajah.. Nanti juga sampe tujuan.. Hhahaa..

Duh! Sekarang gw mulai khawatir dengan sikap gw yang terlalu santai.. Mungkin gw harus periksa.. ~,~

Sir. Aboed Armstrong

Officially trained as a Civil Engineer, Aboed has thrown off the shackles of Stone and Concrete to return to his original passion: Information Technology.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar